Home Hardware LEBIH OPTIMAL DENGAN CLOCK SPEED CPU
Hardware
LEBIH OPTIMAL DENGAN CLOCK SPEED CPU PDF Print E-mail
Written by Admin USI FE Unair   
Thursday, 19 January 2012 03:19

CPU modern dapat berlari kencang jika memang diperlukan. Mekanisme clock speed dinamis tersebut juga bisa anda terapkan pada CPU lama.

AMD Phenom II X6 adalah CPU modern dengan berperforma tinggi. Namun, CPU ini biasanya tidak bekerja lebih cepat daripada CPU Pentium III yang telah dirilis 12 tahun lalu. Phenom II X6 memang hanya bekerja pada clock speed 800 Mhz (sama dengan Pentium III), tapi dengan daya yang lebih kecil. Keunggulannya baru dirasakan saat diberikan beban kerja (load) tinggi. Keenam core Phenom II X6 serentak akan bekerja pada kecepatan 4 kali lipat (3,2 Ghz) sehingga performanya sekian kali lebih besar dari Pentium III. Semua CPU generasi terbaru umumnya menggunakan metode yang sama, yaitu menawarkan performa yang lebih unggul tetapi tetap efisien dengan clock speed dinamis.

Kini, PC dan notebook telah memanfaatkan clock speed CPU yang dinamis. Awalnya, teknologi ini dikembangkan untuk notebook saat Pentium III dirilis intel dengan feature “Speedstep”. Speedstep secara signifikan memperpanjang durasi baterai notebook karena dapat menurunkan dan meningkatkan clock speed CPU secara otomatis sesuai kebutuhan system.

Speedstep : Menghemat energy baterai saat tidak aktif

Sejak Pentium M hadir tahun 2003, notebook mulai dirancang agar lebih optimal dalam performa dan daya tahan baterai. Beban cpu dianalisis dan bekerja pada performa penuh saat diperlukan. Konsumsi baterai dan beban cooling system pun menurun sehingga selain hemat daya, kebisingan kipas pun menjadi berkurang.kebisingan terjadi karena kipas harus terus berputar pada kecepatan maksimum karena CPU masih panas karena dapat beban tinggi secara kontinyu. Kebisingan mulai menurun saat clock speed CPU diturunkan yang secara otomatis menurunkan suhu. Setelah CPU cukup dingin, clock speed dinaikkan lagi dan menjadi panas lagi, sehingga kipas pun kembali berisik. Masalah ini bisa diatasi dengan membatasi clock speed CPU melalui Powes Option pada Control Panel Windows.

Power Management : menentukan clock speed optimal tanpa resiko

Anda dapat mengatur fluktuasi performa notebook di windows 7 melalui “control panel | Power Option”. Disini bisa memilih beberapa opsi pengelolaan daya. Pertam, pilih konfigurasi “balanced” yang merupakan konfigurasi ideal antara performa konsumsi daya. Lanjutkan dengan memilih “ change plan settings | change advanced power settings”. Pada “processor power management”. Klik “Maximum Processor State” yang terbagi dalam dua jenis pengoperasian (on battery and plugged in). keduanya bernilai standar 100%. Kini, anda perlu menetukan, pada nilai berapa CPU masih cukup cepat tanpa kepanasan. Pada nilai 90% atau 95%, notebook biasanya cukup stabil dan cepat saat beban penuh. Apabila daya tahan baterai dan kipas yang tidak bising penting bagi anda, pilih nilai rndah saat notebook dioperasian dengan baterai.

Konfigurasi “Power Plan” Windows tidak beresiko karena masih dalam batasan yang ditetapkan produsen. Namun, sebaiknya anda menghindari konfigurasi “High Performance” yang hanya cocok saat benchmark. Disini, CPU selalu pada performa standar, sehingga meningkatkan konsumsi daya dan kebisingan kipas, sehingga mengurangi masa pakai notebook. Peningkatan performa tidak ada, karena CPU hanya bekerja pada level 100%. Hal ini bukan hanya berlaku bagi notebook, tetapi juga bagi PC yang lebih fleksibel dalam pengaturan clock speed CPU.

PC Dekstop : Performa lebih baik dengan clock speed fleksibel

CPU di PC juga dapat menyesuaikan kecepatannya sesuai kebutuhan. Namun, fokusnya lebih pada pemanfaatan prosesor dan performa yang lebih baik. Teknologi yang hadir pada prosesor Core i5 dan Core i7 disebut intel sebagai Turbo Boost.

Teknologi ini dihadirkan dengan pertimbangan masih ada software yang belum mendukung penuh CPU multicore. Apabila software tersebut membebani salah satu core CPU hingga 100%, konsumsi daya dan cooling system hanya digunakan sepersekian dari keseluruhan kapasitas. Turbo Boost memanfaatkan “sumber daya” cadangan tersebut untuk meng overclock core yang mendapat beban penuh hingga lebih tinggi daripada clock speed standar agar software bekerja lebih cepat.

Sebelum perubahan dalam BIOS : Clock speed dan tegangan standar

Overclocking dan underclocking otomatis ditentukan oleh dua parameter, yaitu clock cpeed dan tegangan core. Interaksi keduanya harus dipahami sebelum anda mengubahnya melampaui batas yang ditetapkan oleh BIOS atau memakai software dari produsen. Clock speed menentukan frekuensi transistor aktif per detiknya. Dan berapa banyak per detik dapat diproses CPU. Untuk meningkatkan performa CPU, clock speed harus ditingkatkan melampaui nilai standar agar sanggup melakukan lebih banyak tahap pengolahan. Namun, karena factor produksi, tidak semua jutaan transistor CPU mampu mengikuti irama tersebut. Akibatnya bisa terjadi kesalahan hitung, ketidakstabilan dan crash. Solusinya adalah meningkatkan tegangan core (Vcore). Vcore adalah tegangan listrik yang ada pada core CPU. Apabila Vcore ditingkatkan, system kembali akan stabil karena semua transistor bisa lebih cepat aktif. Tetapi panas yang dihasilkan juga meningkat sehingga menyebabkan CPU terpaksa harus di shutdown, agar transistor tidak rusak (karena suhu terlalu tinggi), anda harus membatasi tegangan core nya.

Overclocking : Mengeluarkan lebih banyak performa dari CPU

Tergantung produsen motherboard, anda dapat meng-akses BIOSnya dengan menekan tombol [Esc] atau [f2]. Keterangan mengenai berbagai parameter CPU di BIOS bisa diketahui pada buku manual motherboard. Pada BIOS PC yang di uji (motherboard Asus M4A89GTD), berbagai parameter CPU ada di tab “Ai Tweaker”. Kebanyakan parameter di set pada “auto”. Sebelum mengatur clock speed, nonaktifkan Turbo Boost/Turbo Core. Anda harus mengatur clock speed referensi sebagai dasar bagi frekuensi PC dan CPU multiplier yang menetukan berapa kali CPU lebih cepat daripada clock speed referensi. Pada PC yang di uji, clock speed referensi system diatur pada 200Mhz dan multipliernya (AMD Phenom II X6 1090T) diatur pada 16. Dengan demikian, clock speed menjadi 3,2 Ghz. Anda dapat melihat semua nilai tersebut dengan bantuan software CPU-Z. Cara meng-overclocking tergantung dari unlock atau tidaknya multiplier. Unlock multiplier bisa diketahui dari label “K” pada CPU intel (misalnya i5-2500k) “Black Edtion” pada CPU AMD. Anda disarankan meningkatkan multiplier secara bertahap dan menguji kestabilannya dengan Torture Test dari Prime95. Apabila terjadi eror atau crash, naikkan tegangan core dan uji kembali. Overclocking menjadi lebih rumit jika multiplier nya tidak unlock. Solusi yang realtif mudah sederhana adalah meningkatkan clock speed referensi system. Sedikit peningkatan frekuensi, seperti pada PC yang diuji, dari frekuensi 200 ke 210 Mhz biasanya tidak akan bermasalah bagi kestabilan PC. Apabila anda ingin meningkatkan clock speed referensi lebih besar, anda harus mengatur bagian lainnya, seperti RAM agar tidak terlalu jauh di overclock. Untuk itu tetapkan clock speed RAM secara manual. Pada motherboard tertentu dilakukan melalui fasilitas RAM divider dalam BIOS.(PC Media)

Last Updated on Thursday, 19 January 2012 03:34